dulu, dulu sekali, aku sengaja membangun tembok tinggi, menutup semua sumber dari segala luka yang mungkin akan disebabkan karena perasaan yang terlalu besar ke kamu.
diam
pura-pura tak peduli
acuh
buang muka
dan tak boleh ada seorangpun tau kalau aku sedang membangun tembok tinggi
dan beberapa bulan lalu, aku menghancurkan tembok itu sampai runtuh, berkeping-keping.
bodohnya aku.
dan luka yang aku takutkan itu akhirnya terjadi
aku terluka hingga menembus ke jantung
sakit hingga paru-paru terasa tak berfungsi
sakitnya tak terkira
tak bisa dijelaskan dengan apa yang logika mampu jelaskan
tapi kemudian aku bangkit, membangun tembok tinggi lagi
menutup setiap celah yang mungkin aku merobek arteri
namun kadang, ada serangga-serangga kecil, mencoba menggerogoti tiap lapisan tembok yang ku buat
satu dua kali, bisa ku lawan.
tapi kali ini ada yang lebih ku khawatirkan, aku dan kamu (mungkin) akan bertemu lagi, ketakutanku tak karuan sekarang, ingin menolak pertemuan tapi jauh di dalam hati ingin bertemu, ingin bertemu tapi merasa tak punya wajah untuk tersenyum.
aku harus apa?
apa tembok ini akan hancur lagi?
apa akan terluka dengan parah lagi?
aku khawatir ini dan itu
khawatir reaksimu akan menghancurkanku
khawatir justru reaksiku yang membunuhku sendiri
dan yang lebih ku khawatirkan adalah membuat macam-macam reaksi yang membuat orang lain curiga
aku kewalahan
tapi jika aku bertemu kamu lagi, aku yakin "temboknya pasti hancur lagi" seperti saat ini yang sudah terjadi.
Komentar
Posting Komentar